Welcome to Davai Ismutama Komunikasi
Davai Ismutama KomunikasiDavai Ismutama KomunikasiDavai Ismutama Komunikasi
(Sat - Thursday)
davaismu@davai.co.id
Jaka Sampurna, Bekasi Barat
Davai Ismutama KomunikasiDavai Ismutama KomunikasiDavai Ismutama Komunikasi

Tawuran, Fenomena Laten Kenakalan Remaja Berkepanjangan

  • Homepage
  • Umum
  • Tawuran, Fenomena Laten Kenakalan Remaja Berkepanjangan

Prasangka dan Konformitas Teman Sebaya

Remaja merupakan masa peralihan dari fase anak-anak menuju fase dewasa. Menurut Kemenkes (dalam Permenkes No.25 Tahun 2016 mengenai Rencana Aksi Nasional Kesehatan Lanjut Usia Tahun 2016-2019), remaja merupakan kelompok yang berusia 10-19 tahun. Pada kisaran usia tersebut, remaja mengalami banyak perubahan dalam diri mereka yang meliputi perubahan fisik, sosial, hingga psikis dan emosional. Perubahan-perubahan ini dapat mempengaruhi kemampuan life skill mereka dan akan berdampak kepada bagaimana cara mereka bertindak terhadap suatu hal.

Masa remaja menjadi fase transisi menuju dewasa sehingga banyak perubahan yang terjadi pada masa ini terutama pada aspek emosional. Seringkali ditemukan bahwa tindakan yang dilakukan oleh remaja merupakan akar dari perilaku yang ada dalam emosinya. Emosi berperan sangat kuat terhadap agresivitas remaja. Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja juga tidak terlepas dari berbagai macam pengaruh, seperti lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah dan teman sebaya serta aktivitas dalam kehidupannya sehari – hari.

Mengingat bahwa masa remaja berperilaku akan meniru atau mengadopsi sesuai lingkungan teman sebaya. Kuatnya pengaruh kelompok sebaya terjadi karena remaja lebih banyak berada di luar rumah dengan teman sebagai kelompok. Menurut Kartono (2014) kecenderungan kenakalan pada remaja bisa disebabkan oleh konformitas terhadap teman sebayanya. Remaja yang telah masuk ke dalam kelompok teman sebaya akan diberikan posisi sosial, harga diri dan kehormatan apabila remaja tersebut bersikap setia dan conform terhadap kelompok.

Konformitas akan berpengaruh pada keputusan individu dalam bertingkah laku seperti perilaku agresif baik verbal maupun fisik. Perilaku agresif sudah banyak dilakukan penelitian namun sampai sekarang masih menjadi permasalahan yang belum terselesaikan secara keseluruhan. Menurut data komisi perlindungan anak indonesia (KPAI) mencatat terdapat kasus perilaku agresif antar kelompok remaja sebaya khususnya tawuran sekitar 202 kasus atau meningkat 1,1% berhadapan dengan hukum akibat terlibat tawuran dalam rentang dua tahun terakhir.

Sejalan dengan Wade & Tarvis (2011, p.279) “The first thing that in group do is conform, taking action or adopting attitudes as areal or imagined group pressure” individu remaja menjadikan perilaku kelompok sebaya sebagai informasi untuk melakukan sesuatu sehingga mengadopsi sikap sebagai tekanan dalam berperilaku.

Pengaruh Besar Dari Prasangka Negatif

Dari berbagai kondisi tersebut, tampaknya terbentuk sikap negatif atau prasangka terhadap kelompok pelajar dari sekolah lain yang dipandang sebagai musuh. Sehingga, ketika seorang pelajar melihat kelompok pelajar dari kelompok lain yang pernah terlibat dalam suatu perkelahian antarpelajar dengan kelompok atau sekolahnya, ia akan beranggapan bahwa anak itu atau kelompok pelajar itu musuhnya. Tawuran pelajar sebagai suatu bentuk tingkah laku agresi yang dilakukan secara kelompok, diduga dilatar belakangi oleh adanya prasangka terhadap kelompok atau sekolah tertentu.

Foto: Hidayatullah.com

Konsep bahwa sekolah lain itu menjadi musuhnya merupakan hasil dari interaksi dari lingkungan terutama dengan kakak kelas/senior. Kakak kelas menanamkan bahwa siswa sekolah “x” itu adalah musuh. Siswa yang terlibat tawuran menilai kelompok siswa sekolah lain sebagai musuh. Disinilah muncul kategorisasi yakni adanya in group dan out group. Bahwa kelompok siswa sekolah lain bukan dari “kelompok kita”.Ironisnya, mayoritas diantara pelajar yang terlibat mengaku tak tahu-menahu ihwal permasalahan tawuran. Ungkapan “saya cuma diajak teman” seolah menjadi hal biasa saat mereka di hadapan aparat kepolisian. Kalaupun mereka tahu penyebab tawuran, biasanya hal itu tidak terkait langsung dengan dirinya. Istilah solidaritas menjadi bentuk pembenaran bagi remaja yang berkelahi secara rombongan.

Berkelanjutan Dilakukan Senior Pada Junior

Tawuran atau perkelahian antarpelajar yang banyak kita lihat bisa saja merupakan fenomena laten, yang suatu saat bisa muncul kapan, dimana dan tiba-tiba dan kita tidak bisa mengetahui hal tersebut. Di sekolah yang kerap terlibat aksi tawuran terdapat kelompok pelajar informal yang anggotanya terdiri dari senior dan juga junior. Senior memiliki peranan penting dalam mempertahankan keberadaan aksi tawuran pelajar. Senior melakukan komunikasi dengan juniornya untuk menyampaikan berbagai pesan yang umumnya dilaksanakan pada kegiatan-kegiatan tertentu yang telah menjadi tradisi di sekolah tersebut. Budaya tawuran pelajar seakan sengaja dibentuk dan diturunkan kakak-kakak kelas kepada siswa yang baru masuk sekolah, agar tradisi tersebut tetap terjaga.

Iif Ahmad Rifai

Leave A Comment

Integrated services to enrich the visibility of your business image.

Jakasampurna, Bekasi Barat
(Sat - Thursday)
(09 am - 05 pm)
Open chat
Hello 👋
How can we help you?